Narkoba Menghancurkan Negara, Mari Kita Perangi Bersama

Narkoba Menghancurkan Negara, Mari Kita Perangi Bersama

Narkoba

“Survei BNN, biaya belanja narkotika kurang lebih Rp 250 triliun dalam satu tahun” – Budi Waseso.

Akan kita lihat nanti apa arti 250 triliun/tahun.

Narkoba masalah di jaman modern? Tidak. Masalah Narkoba sudah ada sejak beberapa ratus tahun lalu. Keruntuhan kekaisaran terakhir Cina tidak bisa terlepas dari narkoba. Dengan dalih “perdagangan bebas” Kerajaan Inggris memaksakan pemasaran opium ke imperium Cina. Tentu pemerintah kekaisaran Cina melawan, tapi terlambat dan kerusakan terlanjur menggerogoti ketahanan negara. Tahun 1912 Dinasti Qing bubar. Sampai sekarang cara pandang pemerintah Cina terhadap barat masih dipengaruhi trauma akibat “Perang Candu” melawan Inggris di abad 19.

Ibu RA Kartini pun prihatin dengan keadaan masyarakat Jawa yang rusak karena Candu.

“Pada awalnya Anda makan opium, tetapi pada akhirnya opium itu akan memakanmu.”

Keresahan Kartini soal candu di tahun 1899 itu merefleksikan keresahan dia pada kondisi jamannya. Satu dari 20 orang jawa adalah pemakai candu. Rumah-rumah candu berdiri sampai pelosok-pelosok pedesaan. Konsumsi candu menjadi kegiatan plesiran di semua kalangan. Setiap tahun 56 ton candu masuk dan di dipasarkan secara resmi ke jawa sampai pelosok-pelosok. Diperkirakan candu yg beredar di pasar gelap dua kalinya.

Tahun 1670an VoC berhasil memaksakan perjanjian monopoli perdagangan candu ke Amangkurat II. Selanjutnya VoC melelang hak peredaran candu kepada pedagang besar Cina per wilayah. Dari cukai candu ini saja VoC bisa menggaji seluruh aparatnya di Jawa. Bisa dibayangkan besarnya nilai bisnis Narkoba di jaman itu.

Negara mana dengan jumlah kematian akibat kekerasan terbesar di dunia setelah Suriah? Afganistan? Irak? Bukan! Negara dengan kematian akibat kekerasan terbesar di dunia setelah Suriah adalah Mexico. Apa akar masalahnya? Narkoba! Bisnis narkoba di Mexico berkembang pesat menggantikan Kolombia. Omset per tahun kira 49 Milyar Dollar Amerika atau kira-kira 662 trilyun rupiah atau kira-kira setara lebih dari 1/4 APBN Indonesia.

Bagaimana dengan Indonesia. Seperti disebut di atas oleh Pak Budi Waseso, belanja narkoba di indonesia kira-kira Rp. 250 triliun/tahun. Mari kita bandingkan dengan anggaran pemerintah:

APBN 2018 Rp. 2.221 T
Pendidikan Rp. 444 T
Kementrian Pertahanan Rp. 105 T
Kementrian Agama Rp. 62 T
Kementrian Kesehatan Rp. 59 T
Badan Narkoba Nasional Rp. 5.6 T
Kejaksaan 6.4 T
Kepolisian Rp. 95 T
dan Narkoba Rp. 250 T

Di dalam anggaran ada kuasa. Di dalam anggaran terkandung kekuatan. Semakin besar ukuran bisnis narkoba akan semakin sulit diatasi. Bisa jadi belanja narkoba 250 triliun itu akan menggulung badan-badan penegak hukum yang anggarannya jauh lebih kecil. Menjadi beban bagi pendidikan dan kesehatan.

Terkesan ada kegamangan penegak hukum untuk melaksanakn eksekusi terhadap bandar besar narkoba yg telah divonis hukuman mati. Bahkan, di dalam penjara para tervonis mati ini tidak menghentikan kegiatan bisnisnya. Kalau Hak Asasi menjadi pertimbangan pelaksanakan hukuman tegas, apa tidak dipertimbangkan bahwa Narkoba merenggut jutaan Hak Asasi korbannya?

Diperkirakan ada 6 juta korban narkoba di indonesia. 27% atau sekitar 1.62 juta di antaranya adalah pelajar dan mahasiswa. Di Jakarta saja ada 1.2juta korban. Berturut-turut provinsi dengan korban narkoba terbesar: Jakarta, Kalimantan Timur, Sumatra Utara, Kepulauan Riau dan DI Yogyakarta.

Kalau menganggap narkoba adalah masalah orang kaya maka anggapan itu SALAH BESAR. Narkoba telah menyusup sampai ke buruh-buruh perkebunan Sawit di Kalimantan dan bapak-bapak petani di Lampung. Narkoba telah menggoyah sendi-sendi jutaan rumah tangga di Indonesia dan tentu saja negara.

Sampai tahun 2030 disebut-sebut Indonesia akan mendapat Bonus Demografi. Apa itu? Bonus Demografi adalah ledakan jumlah penduduk usia produktif. Jumlah angkatan kerja dengan usia 15-64 tahun mencapai 70 persen atau 180 juta. Banyak harapan bahwa Bonus Demografi itu adalah batu loncatan untuk memajukan negara. Apa jadinya jika generasi yang digadang-gadang akan menjadi batu loncatan memajukan negara itu terkena narkoba. Alih-alih memajukan, ‘batu’ itu akan menjadi sandungan. Atau lebih buruk, menjadi batu beban bagi kapal besar Indonesia menuju karam. Jangan sampai hal itu terjadi. Sudah saatnya pemerintah, atau siapapun, punya sikap yg sama terhadap narkoba: “Narkoba Menghancurkan Negara” dan harus diperangi bersama-sama.