Video selengkapnya dapat dilihat di Channel SMA Pradita Dirgantara

Rabu 17 Oktober 2018 SMA Pradita Dirgantara kembali menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Learning the history of chemistry through an experiment show”. Kuliah umum tersebut menghadirkan narasumber dari Muenster University, Jerman yakni Prof. Dr. Hans-Dieter Barke. Kegiatan tersebut terbuka bagi seluruh civitas akademika SMA Pradita Dirgantara yang di laksanakan di Auditorium SMA Pradita Dirgantara.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Barke melakukan beberapa demonstrasi terkait dengan sejarah perkembangan ilmu kimia. Adapun dari beberapa percobaan yang dilakukan yakni percobaan Boyle (1660), Stahl (1690), Lavoisier (1774), Black (1760), Bunsen (1860), Schoenbein (1870) dan Barke (today). Percobaan yang dilakukan sangat mengesankan dan menarik karena banyak menghasilkan ledakan, api dan warna. Tidak heran banyak tepuk tangan dari peserta yang hadir selama kuliah umum berlangsung.

“Kuliah umum yang dilakukan sangat menarik, karena siswa diajak bereksperimen langsung, diharapkan kedepannya ada pembelajaran atau kuliah umum yang melibatkan siswa untuk melakukan percobaan secara langsung” ujar salah satu guru SMA Pradita Dirgantara.

Boyle 1660
Percobaan dilakukan menggunakan larutan natrium hidroksida dan asam sulfat dengan konsentrasi masing-masing 0.1 M serta menggunakan larutan indikator universal dan indikator phenolphtalain (PP). Ketika larutan PP ditambahkan ke dalam larutan yang bersifat basa dalam hal ini contohnya natrium hidroksida akan merubah warna larutan natrium hidroksida menjadi pink. Sedangkan, larutan basa (natrium hidroksida) ketika diberi indikator universal menghasilkan warna ungu dan menghasilkan warna kuning pada larutan yang bersifat asam (asam sulfat).

Stahl 1690 (phlogiston theory)
Stahl menjelaskan bahwa pembakaran adalah proses yang menyebabkan unsur phlogiston meninggalkan materi tersebut. Stahl mengasumsikan masa dari material akan berkurang karena ada yang hilang terbakar. Akan tetapi, ketika iron wool dibakar ternyata masa dari iron wool meningkat. Peningkatan masa ini karena iron (besi) akan bereaksi dengan oksigen membentuk besi (III) oksida. Hal ini tentunya berbanding terbalik dengan phlogiston theory. 

Black (17760)
Black melakukan percobaan dengan untuk menghasilkan karbon dioksida. Demonstrasi dilakukan dengan magnesium karbonat yang terdapat dalam minuman berenergi direaksikan dengan air. Keberadaan dari gas karbon dioksida diuji dengan menggunakan lilin yang menyala, ketika lilin menyala dimasukkan ke dalam suatu tempat yang mengandung banyak karbon dioksida lilin tersebut akan padam. Karena didalam ruang tersebut tidak terdapat oksigen.

Lavoisier (1774)
Lavoisier mengasumsikan bahwa massa sebelum dan sesudah reaksi adalah sama. Teori ini dibuktikan dengan membakar karbon yang ditaruh didalam labu bulat yang mengandung kemudian ditimbang. Setelah itu karbon tersebut dibakar kemudian didinginkan beberapa saat. Setalah dingin, labu bulat yang berisi karbon kemudian ditimbang dan ternyata massa yang dihasilkan adalah sama seperti massa sebelum dibakar.

Bunsen (1860)
Bunsen melakukan percobaan untuk mengetahui warna nyala beberapa logam. Dalam demonstrasi, beberapa logam klorida dibakar menggunakan Bunsen dengan magnesium stick. Dari proses pembakaran didapatkan warna nyala yang dihasilkan logam stronsium, litium, kalium, kalsium dan natrium menghasilkan masing-masing nyala warna merah terang, merah samar, ungu samar, kuning kemerahan dan kuning.

Schoenbein (1870)
Schoenbein dilakukan dengan menggunakan selulosa nitrat. Selulosa akan terbakar dan menghilang dan menghasilkan sedikit ledakan. Prinsip kerja dari selulosa nitrat hampir sama dengan prinsip kerja petasan.

Barke (today)
Ada beberapa percobaan yang dilakukan oleh Prof. Barke, antara lain: pembakaran magenesium dengan air, pembakaran paraffin dengan air, pembakaran sapu tangan dan ledakan serbuk. Magnesium bereaksi dengan air menghasilkan gas hydrogen dan energy yang besar sehingga api semakin membesar. Sementera pembakaran paraffin, menghasilkan bola api yang besar atau memperbesar api. Dalam hal ini paraffin meleleh, hanya di bagian permukaan saya yang tereskpos oksigen, sehingga api yang dihasilkan perlahan. Ketika air ditambahkan ke paraffin yang terbakar, dua hal terjadi. Pertama, air – yang lebih pekat dari paraffin – tenggelam ke bawah kontainer. Kedua, ketika paraffin yang dibakar cepat mencapai suhu 200oC, air langsung menguap. Percobaan sapu tangan yang tidak terbakar dimulai dengan menyelupkan sapu tangan ke dalam campuran larutan etanol-air kemudian dibakar. Percobaan menunjukkan sapu tangan ternyata tidak terbakar. Hal tersebut terjadi karena panas yang terjadi dipindahkan dari sapu tangan yang panas ke air. Hal itu melindungi pembakaran sapu tangan. HUMAS SMA PRADITA DIRGANTARA